Sabtu, 20 Desember 2014

TUHAN MAHA ESA, UANG MAHA KUASA

Perjalanan hidup ini tak lekang dari hujanan masalah. Silih berganti warna itu hadir pada sisi kehidupan. Seiring dengan itu banyak janji yang terucap berjuta sumpah dibuat. Begitu piawainya dunia memainkan peranannya. Julangan gedung tinggi dan rumah mewah memiris hati penghuni kolong jembatan, bilakah masa itu beralih, mereka ingin sekali menjadi penghuni batu-batu pualam yang indah itu? Deru mesin kereta kencana keluaran Jepang dan Eropa hilir mudik di lintasa hatinya, kapankah pedal empuk itu disentuh jemari lusuhnya?

Barangkali Tuhan telah berganti namanya menjadi rupiah, karena ternyata bagi mereka atau sebagian kita, uanglah segalanya.

Perih itu menyelinap di hati, saat susu si bayi tak mampu kita beli atau ketika ibunda harus di operasi sementara tak satu senpun uang kita miliki. 

Pontang-panting, pagi-sore, siang-malam, kita tapaki jalanan berdebu, sekedar untuk mencari kertas atau logam yang ‘menurut’ kita mampu atasi segalanya. Melupakan esensi kehidupan dan yang menghidupkan, peduli amat, kenyataannya TUHAN tak selesaikan masalah yang kita hadapi.

Dalam sebuah obrolan santaiku dengan beberapa pengusaha, ada satu kalimat yang menyentil-nyentil gendang telingaku, “Tuhan Maha Esa, Uang Maha Kuasa”. Sebegitunyakah real of life dunia ini?

Bumi Allah yang begitu luas, dengan keanekaragaman sumber daya alamnya, telah kita gerogoti, kita petakan sebagai milik negara, milik penguasa dan orang-orang yang mau bersinergi dengan mereka. Bahkan percikan debu keberkahannyapun telah disedot dengan vacum kerakusan, ketamakan dan keserakahan. Rakyat cukup mendengar ceritanya saja, si kecil serahkan sama Polisi Pamong Praja, kalau membandel ya kirim pasukan cokelat dan doreng-doreng, selesai perkara.

Para Ulama di kerangkeng dengan slogan dan OTB (organisasi tanpa bentuk), dibuat melarat, tak ada gaji, tak ada subsidi. Dibuat slogan ekstrimis, fundamentalis, teroris sampai akhirnya nasibnya miris-miris. Suaranya bak kokok ayam di padang pasir, melengking namun tak ada yang mendengarkan, atau ia hanya dianggap pengamen-pengamen jalanan, dikasih receh lalu diamlah sudah.

Do’a mereka tak lagi ditakuti, karena para penjahat telah memahami hadits “ takkan terkabul do’a kalian jika telah bercampur darahmu dengan secuil barang yang haram”. Maka jangan heran, kuantitas do’a tak lagi berkualitas.
Konklusi penderitaan ini harus segera di amputasi!” harus!” caranya?” jangan pernah mengharap kehidupan dunia, dan berhentilah berharap kepada mahluk. Perih, pedih!! Betul! Tapi itu sesaat, sebentar, dan sebentar lagi Allah akan memenangkan dan mengeyangkan kita semua.....

“Dunia ini kesenangan yang menipu, tempat bermain dan bersendagurau, jangan diseriusi, usah dipentingkan, santai saja, jangan merasa kecil dihadapan orang yang merasa besar, dan jangan merasa besar dihadapan orang-orang kecil....

Menepis Dunia di Hati Memupus Harap pada Asa, gantungkan sepenuh rasa segala sesuatu kepada Allah SWT......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar