Wajah itu memucat, sapuan kuas itu tak
mampu menutupi keriput deritanya. kerutan hitam di kelopak mata memberikan
tanda, ia telah lama mecandai kehidupan ini. Berusaha tegar dalam tegap berdiri
setengah rapuh. kaki-kaki itu tak lagi sempurna menjajak tanah.
Wajah itu memucat, balutan slayer itu
tak mampu menghalau angin menerpa kulitnya yang tak lagi merona. Segarnya air
menyegarkan sesaat lalu ia kembali menguncup, layu dan kusam.
Wajah itu memucat, meski alunan orkestra
dan lembutnya ketukan jazz menggamat di telinga, ia tak bisa menikmatinya,
dirinya tak lagi lincah untuk menarikan salsa apalagi disco alakadabra. Tulang
punggungnya retak, betisnya lama terkilir, meski sudah berkali di bedah abah
Jamil asal desa Cimande, cedera itu tak kunjung pergi.
Wajah itu memucat, walau hidangan bebek
presto dan sambal balado tersaji di depannya, lidahnya payau, tak mampu lagi
merasa-rasa, kegetiran itu telah mematikan saraf kenikmatannya. Bahkan kini ia
tak punya ingin lagi.
Wajah itu memucat, yang ia punya kini
hanya satu kesadaran, ia akan mati, ia akan pergi, ia takkan kembali, meski
barangkali anak-anaknya akan tumbuh, namun ia tak dapat lagi berbagi, memberi
apalagi berbakti...
Wajah itu adalah negeriku, wajah itu
adalah tanah airku, wajah itu adalah pertiwiku, wajah itu adalah Indonesiaku..
meski kau tanam satu miliar pohon, meski
kau kerahkan serdadu-serdadu bersenapan, meski kau hadiai ia dengan berjuta
janji, bebas korupsi, bebas mafia, bebas narkoba, bebas, bebas,
bebas.......namun tanganmu yang kotor itu takkan menumbuhsuburkan satu pohonpun
yang kau benamkan, serdadu itu hanyalah kurcaci negeri yang meneken kontrak
dengan para koruptor untuk melenggak lenggok di mata hukum, lalu.....adakah
engkau faham, kesempatan itu hanya satu, kembalilah kepada tuhanmu.....hanya
itu, ya hanya itu........
Raden Ahmad Affandi Azmtkhan
Raden Ahmad Affandi Azmtkhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar