Sabtu, 20 Desember 2014

CERMIN KEHIDUPAN

Wajah itu memucat, sapuan kuas itu tak mampu menutupi keriput deritanya. kerutan hitam di kelopak mata memberikan tanda, ia telah lama mecandai kehidupan ini. Berusaha tegar dalam tegap berdiri setengah rapuh. kaki-kaki itu tak lagi sempurna menjajak tanah.

Wajah itu memucat, balutan slayer itu tak mampu menghalau angin menerpa kulitnya yang tak lagi merona. Segarnya air menyegarkan sesaat lalu ia kembali menguncup, layu dan kusam.

Wajah itu memucat, meski alunan orkestra dan lembutnya ketukan jazz menggamat di telinga, ia tak bisa menikmatinya, dirinya tak lagi lincah untuk menarikan salsa apalagi disco alakadabra. Tulang punggungnya retak, betisnya lama terkilir, meski sudah berkali di bedah abah Jamil asal desa Cimande, cedera itu tak kunjung pergi.

Wajah itu memucat, walau hidangan bebek presto dan sambal balado tersaji di depannya, lidahnya payau, tak mampu lagi merasa-rasa, kegetiran itu telah mematikan saraf kenikmatannya. Bahkan kini ia tak punya ingin lagi.

Wajah itu memucat, yang ia punya kini hanya satu kesadaran, ia akan mati, ia akan pergi, ia takkan kembali, meski barangkali anak-anaknya akan tumbuh, namun ia tak dapat lagi berbagi, memberi apalagi berbakti...

Wajah itu adalah negeriku, wajah itu adalah tanah airku, wajah itu adalah pertiwiku, wajah itu adalah Indonesiaku..


meski kau tanam satu miliar pohon, meski kau kerahkan serdadu-serdadu bersenapan, meski kau hadiai ia dengan berjuta janji, bebas korupsi, bebas mafia, bebas narkoba, bebas, bebas, bebas.......namun tanganmu yang kotor itu takkan menumbuhsuburkan satu pohonpun yang kau benamkan, serdadu itu hanyalah kurcaci negeri yang meneken kontrak dengan para koruptor untuk melenggak lenggok di mata hukum, lalu.....adakah engkau faham, kesempatan itu hanya satu, kembalilah kepada tuhanmu.....hanya itu, ya hanya itu........

Raden Ahmad Affandi Azmtkhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar