Sebelum lebih jauh kita membahas tentang
‘ Menjadi Sempurna’ ada baiknya kita memahami dulu tentang makna
kesempurnaan. Allah adalah dzat yang MAHA SEMPURNA, sehingga kemahaannya tak
dapat didefenisikan dengan sudut pandang apapun, Ia menyatakan ketakterhinggaan
diri-Nya dengan kalimat, “wa lam yakun lahu kufuan ahad” tak ada satupun yang
setara dengan-Nya. (Q.S. Al-Ikhlas : 4). Membaca ayat ini ingatan kita
melambung pada peristiwa pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Nabiallah Ibrahim
as. Sebagai seorang pemuda yang cerdas, Nabiallah Ibrahim as, tidak mengikuti
kebiasaan jahiliyah yang dilakukan kaumnya, menyembah berhala.
Naluri dan kecerdasan akalnya menolak
perilaku bodoh – membuat patung yang dianggap Tuhan lalu menyembahnya . Ia
terus melakukan eksplorasi pada semesta, ia mencari sosok yang begitu agung dan
besar dalam defenisi akalnya hingga ia menyadari ada satu benda yang cahayanya
menyelimuti bumi,yakni MATAHARI. Begitu lama ia menikmati dan
menganulirkan rasa untuk dapat menerima bahwa benda yang begitu terang ini
adalah TUHANnya, namun seiring waktu, mataharipun mengikuti rotasi taqdirnya,
ia ditelan oleh malam, sirna tanpa jejak dan bekas.
Ibrahim tersentak, iapun tersadarkan
bahwa ini bukanlah sifat yang MAHA AGUNG, ia tak mungkin cacat, sementara
matahari, menghilang begitu saja. Demikian juga saat ia melihat rembulan,
bintang dan mayapada, semuanya tak abadi. Hingga hatinya tertambat pada pemahaman,
pastilah ada satu kekuatan yang MAHA DAHSYAT yang mengatur semua ini. Dan saat
itulah hidayah menyapanya.
Mengartikulasikan pencarian Nabiallah
Ibrahim as yang akhirnya mendapatkan klimaks tafakur dengan penyadaran diri,
kita dapat menemukan jawaban, bahwa mahluk yang begitu besar seperti matahari,
bulan dan bintangpun tak sehebat dugaan kita, apatalah lagi diri kita, dari
sudut ukur dan bentuk tak ada seujung kuku dibanding matahari. Seharusnya kita
tersadar bahwa memang tidak akan pernah ada kesempurnaan pada mahluk.
Namun manusia memang begitu lemah, ia
gampang berbolak balik, bahkan hatinya bisa mendidih lebih dari titik didihnya
air yang menggelegak di perapian. Nafsunya selalu mencari kesempurnaan,
sayangnya ia menambatkan pandangan itu serta berharap ia menjadi sosok yang
sempurna atau paling tidak disikapi dengan sikap yang sempurna.
Adalah kehidupan rumah tangga sebagai
contoh kecil dalam kehidupan ini. Seorang suami memimpikan istri yang ideal
alias sempurna, sehingga ia mengadministratifkan daftar kesempurnaan itu,
wanita harus cantik, baik, pandai, nurut, melayani, dsb. Di fihak yang lain,
wanitapun mengkalkulasi kesempurnaan yang ingin ia dapat dari suaminya,
laki-laki yang baik, pengertian, penuh kasih sayang, kaya, soleh, dan seabrek
kriteria lainnya.
Padahal semakin kita mengharapkan
kesempurnaan semakin kita menemukan banyak kekurangan, karena sunnatullahnya
mahluk takkan ada yang sempurna. Apa sesungguhnya yang bisa menyempurnakannya?
Mengembalikan pemahaman bahwa yang sempurna hanyalah Allah, sehingga hati kita
lebih gampang menerima orisinilitas kekurangan pada pasangan hidup kita. Sikap
menerima, memahami dan penyadaran akan ketidaksempurnaan itu akan melahirkan
kesempurnaan sikap dan kebahagiaan pada bathin, namun sebaliknya jika kita
menuntut kesempurnaan, yakinlah takkan pernah kita menuai hasil yang
sempurna……….
So…..saling berbesar hati, melapangkan
dada, menerima kekurangan, dan menyadarkan diri, bahwa kitapun takkan mampu
berbuat yang sempurna……..
Raden Ahmad Affandi Azmatkhan
Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar