Dalam kedamaian tak ada lagi lalulalang
ketakutan, bukan berarti hantu telah mati, namun karena keseimbang jiwa yang
tak terperciki dendam bahkan kepada syetan yang berjanji ingin menghancurkan.
realisasi kehidupan dipenuhi dengan
kebencian yang sangat, ketidakadilan pemerintah melahirkan cacimaki yang tak
kunjung padam, sikap borjuis orang kaya memiris-miris hati jelata hingga
memunculkan sumpah serapah, keputusan orang pintar hanya menyenangkan
penyokongnya dan menyakiti kaum bodoh.
Neraca kejujuran tak lagi digunakan,
yang ada kolusi dalam keserakahan bersama, bahkan tak peduli apalagi peka
terhadap perasaan orang di sekelilingnya. yang ia tau, ia senang, bergembira,
meski ia juga manusia yang di saat berbeda merenda airmata karena duka yang
datang menyapa.
dimana jalan kedamaian itu?
kaum spiritualis, mereka menjadi sosok
yang dibutuhkan saat kepedihan menyapa, dukalara melanda, bahkan do'a-do'a
mereka menjadi tumpuan asa. Namun tak sedikit yang terjebak kepada kehampaan
hati, bukan karena tak diberi dzikir dan mantera, melainkan tak adanya
kesungguhan untuk merendahdirikan di hadapan Allah sang pemilik semesta.
manusia ingin mulia, seperti kisah
Fir'aun yang selalu ingin tampil berkuasa. ternyata mentalitas itu terus
meresap bahkan dianulir menjadi nadi darah kehidupan, tengoklah! banyak manusia
yang sulit menghargai sesama, bukan karena mereka orang terhormat, karena ia
menganggap orang lain itu akan merusak kehormatannya. Majikan tak menghargai
pembantu, karena ia menganggap pembantunya adalah 'budak' dan 'sampah' yang
jika disandingkan dengannya maka turunlah kehormatan yang dirasanya.
kenapa presiden dan pejabat, jika
berkunjung kesuatu daerah menggunakan helikopter? karena mereka tak mau
bersentuhan dengan 'malu' yang mereka tebarkan. mereka menyembunyikan cacat
kepemimpinan dengan tak mau melihat lubang-lubang jalan, lumpur-lumpur becek.
Naifnya lagi, sebagian kita menyokong kesewangwenangan itu dengan memanipulaso
tampilan jorok menjadi indah.
selagi kita tak mampu menemukan
kerendahan diri, tak bisa membaca cermin kejujuran, dan membutakan hati dari
nyanyian jiwa, maka kepungan harta, derai pujian, bahkan tampuk kekuasaan tak
akan mendamaikan kehidupan. kedamaian itu hadir dari hati yang menyamaratakan
kehidupan, dalam cinta semua menjadi sama. karena keselarasan cinta itu tak
memandang kasta. ia adalah naluri yang tuhan hadiahkan, bahkan harimaupun
memandikan anaknya dengan menjilatinya, tak surut cinta oleh keadaan, bahkan ia
tetap murni meski di bakar oleh api kepedihan.
cintailah cinta, karena itu sajalah
satu-satunya JALAN KEDAMAIAN.
Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar