Selasa, 16 Desember 2014

JALAN KEDAMAIAN. (sebuah catatan dalam OASE CINTA YANG TAK PERNAH SEPI)

Dalam kedamaian tak ada lagi lalulalang ketakutan, bukan berarti hantu telah mati, namun karena keseimbang jiwa yang tak terperciki dendam bahkan kepada syetan yang berjanji ingin menghancurkan.

realisasi kehidupan dipenuhi dengan kebencian yang sangat, ketidakadilan pemerintah melahirkan cacimaki yang tak kunjung padam, sikap borjuis orang kaya memiris-miris hati jelata hingga memunculkan sumpah serapah, keputusan orang pintar hanya menyenangkan penyokongnya dan menyakiti kaum bodoh.

Neraca kejujuran tak lagi digunakan, yang ada kolusi dalam keserakahan bersama, bahkan tak peduli apalagi peka terhadap perasaan orang di sekelilingnya. yang ia tau, ia senang, bergembira, meski ia juga manusia yang di saat berbeda merenda airmata karena duka yang datang menyapa.

dimana jalan kedamaian itu?

kaum spiritualis, mereka menjadi sosok yang dibutuhkan saat kepedihan menyapa, dukalara melanda, bahkan do'a-do'a mereka menjadi tumpuan asa. Namun tak sedikit yang terjebak kepada kehampaan hati, bukan karena tak diberi dzikir dan mantera, melainkan tak adanya kesungguhan untuk merendahdirikan di hadapan Allah sang pemilik semesta.

manusia ingin mulia, seperti kisah Fir'aun yang selalu ingin tampil berkuasa. ternyata mentalitas itu terus meresap bahkan dianulir menjadi nadi darah kehidupan, tengoklah! banyak manusia yang sulit menghargai sesama, bukan karena mereka orang terhormat, karena ia menganggap orang lain itu akan merusak kehormatannya. Majikan tak menghargai pembantu, karena ia menganggap pembantunya adalah 'budak' dan 'sampah' yang jika disandingkan dengannya maka turunlah kehormatan yang dirasanya.

kenapa presiden dan pejabat, jika berkunjung kesuatu daerah menggunakan helikopter? karena mereka tak mau bersentuhan dengan 'malu' yang mereka tebarkan. mereka menyembunyikan cacat kepemimpinan dengan tak mau melihat lubang-lubang jalan, lumpur-lumpur becek. Naifnya lagi, sebagian kita menyokong kesewangwenangan itu dengan memanipulaso tampilan jorok menjadi indah.

selagi kita tak mampu menemukan kerendahan diri, tak bisa membaca cermin kejujuran, dan membutakan hati dari nyanyian jiwa, maka kepungan harta, derai pujian, bahkan tampuk kekuasaan tak akan mendamaikan kehidupan. kedamaian itu hadir dari hati yang menyamaratakan kehidupan, dalam cinta semua menjadi sama. karena keselarasan cinta itu tak memandang kasta. ia adalah naluri yang tuhan hadiahkan, bahkan harimaupun memandikan anaknya dengan menjilatinya, tak surut cinta oleh keadaan, bahkan ia tetap murni meski di bakar oleh api kepedihan. 


cintailah cinta, karena itu sajalah satu-satunya JALAN KEDAMAIAN.

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar