Semesta berputar tanpa henti, seperti
itu juga partikel-partikel terkecil yang bernama atom. Perputaran itulah
kehidupan, seperti matahari di jatah siangnya dan rembulan di waktu
malamnya.
kehidupan manusia dipenuh dengan beragam
kisah, tak hanya putih bahkan hitampun mengambil peran. hanya saja,
objektifitas penilaian sering ditimpas oleh pandangan parsial dalam sebuah
jastifikasi. padahal kita semua sadar 'petunjuk' itu bukan bagian kita.
Manusia menempati posisinya
masing-masing, si penjahat dengan seluruh kejahatannya, dan si baik dengan
seluruh kebaikannya, inilah dunia. tak ada kyai, ustadz atau ulama, jika semua
orang setara dengan mereka dalam hal pemahaman, kebaikan dan pengamalan.
sebutan itu lahir karena tuhan menjadikan sisi gelap untuk diterangi mereka.
maka seharusnya mereka ikut bersyukur pada kegelapan, seperti matahari yang
selalu dinanti ketika malam sudah sedemikian pekat. sebaliknya keberkahan
'cahaya' yang dititipkan tuhan kepada mereka kebaikan dalam dunia kelam.
keduanya menjadi saling berucap terima kasih.
adalah kita kawan....
terkadang tertawan oleh sekelumit
kenangan tentang dosa-dosa yang boleh jadi sampai sekarangpun belum kita bisa
lepaskan. namun di ruang hati, selalu ada sudut untuk menyesali. dan itulah
mercusuar jiwa yang akan menuntun kita untuk berbenah diri.
adalah kita kawan...
yang sering membanggakan kebaikan meski
baru sedikit yang bisa kita lakukan. namun tepukan dada sering membahana seolah
kita seorang sajalah yang akan menemui surga. padahal di ruang hati, selalu ada
sudut kebanggan, riya, ujub, sum'ah dan takabur, dan itulah api yang membakar
sekam amal tanpa kita sadari.
adalah kita kawan....
yang menopang kehidupan dengan se'abrek'
kepalsuan, mengatasnamakan agama bahkan tuhan sekedar untuk memperoleh harta
dan keterpujian. meski kadang kita membrutal tanpa pertimbangan 'SK' tuhan
untuk merusak semesta, semua demi perut kita, padahal di ruang hati, selalu ada
sudut penyesalan, dimana semua yang kita cari ternyata tak memberi arti pada
sebuah kebahagian yang sejati.
adalah kita kawan....
yang memalsukan cinta dan keadilan,
lantang teriang bak lari melintas lintang pukang, namun dikenyataan hari,
kitalah yang memperkosa dan meniduri cinta dan keadilan. bahkan atas nama
cinta, berapa gadis yang terenggut kehormatannya, berapa wanita yang terpaksa
melacurkan kehidupan. padalah di ruang hati, selalu ada sudut, dimana keinginan
untuk dicintai, disayangi, dihormati setulus hati itu selalu hadir menyapa
rasa.
adalah kita kawan....
atas nama hukum dan kepentingan,
melongokkan wajah untuk tampil dimuka, meski cacat itu tak bisa
dielakkan, walau bedak dan gincu dipertebaltuankan. demi sebuah harga diri,
atau harga rumah kita tak pernah bisa membaca, karena nita masing-masing
tersimpan rapi di dalam dada. di ruang hati, selalu ada sudut kehampaan, disitu
terletak perasaan benci terhadap diri sendiri, karena tak mampu berbuat lebih
untuk orang-orang terkasih, karena kita tak bisa berbagi dengan sesama, meski
kadang kita menafikan genta suaranya yang begitu nyaring menendangnendang
telinga jiwa.
adalah kita kawan....
yang merindui kehidupan abadi dalam
kesenangan, hingga tak peduli lagi dengan cara apa kita untuk
mempertahankannya, walau harus membunuh, memfitnah, mengadudomba, mempolitisir
berita, atau nyemplung kekubangan nista, padahal di ruang hati, selalu ada
sudut kesadaran bahwa kehidupan ini tidak kekal, tak ada yang abadi, tak ada
yang pasti, dan kesadaran akan kuasa ilahi itu kita bunuh dengan kepurapuran
bego kita atau memang bego yang sesungguhnya, hingga kita tetap mempertahankan
syahwat keinginan yang meledak-ledak itu.
adalah kita kawan.....
yang akan menempuh dua jalan, kanan atau
kiri, keduanya mengandung konsekuensi logis. dan tak ada paksaan tuhan untuk
engkau lalui jalan yang mana, karena ia telah membuat rambu-rambu sebagai
tanda, dan Dia beri kita mata hati untuk membacanya, agar kita tak menyesal di
ujung jalan yang kita pilih.......
silakan......demikian tuhan
memulainya.....
Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar