Kalimat ini sangat sangatlah sering kita
dengar bahkan terucap dari bibir kita, entah itu dalam sholat atau dzikir yang
kita lantunkan. kalimat yang sangat simpel dan sederhana untuk dibunyikan,
namun memiliki pemaknaan yang dalam. mari kita coba merenungkan sedikit
artikulasinya dalam sisi bathin secara sederhana.
sebagian manusia termasuk kita
barangkali sering terjebak kepada peng 'agung'an terhadap dunia, sehingga tak
sedikit dari kita yang mencintai dan menunjukkan ketundukan cinta terhadap
dunia. seperti sebuah kisah tentang seorang anak yang meminta lolypop (permen)
kepada kawannya, lalu kawannya mengatakan, kalau engkau mau, merangkaklah dulu
di bawah kakiku, lalu si anak tersebut mbrangkang dan mendapatkan apa yang ia
inginkan.
kita memang bukan anak kecil itu, karena
kisah diatas hanya perlambang dari kebijaksanaan ulama dalam memahamkan makna
dunia. dikenyataan hari ini, kita seperti anak yang menginginkan lolypop
tersebut dan bersedia mbrangkang, menjual harga diri dan izzahnya iman demi
mendapatkan bagian kecil dari dunia.
aku tak sekedar membicarakan imajinerku,
namun inilah realita sesungguhnya, tak sedikit manusia yang rela melepaskan
kehormatannya untuk mendapatkan populeritas, atau menjilat-jilat kebusukan
bosnya demi sebuah promosi.
ditambah lagi, sikap angkuh para borjuis
yang berlagak dermawan, memposisikan siapa saja sebagai 'alap-alap' yang harus
disedekahi wajah sombong dan senyuman sinis. tak pelak, banyak manusia
memaksakan dirinya tampil sebagai 'gembel' demi semua itu.
itu bukan hal yang baru, itu kisah lama
yang diceritakan oleh kita berulang-ulang. sikap hedonisme dan mementingkan
materi sebagai objek kehidupan telah membawa kewibawaan manusia di mata mahluk
langit lebih hina dari binatang ternak, bak kerbau dicucuk hidung, kita
tertawan oleh bendawi yang sarat dengan kehinaan diri.
persahabatan hanya langgeng saat kita
memiliki jabatan dan secuil harta, begitu ia pergi, pergi juga kawan, sodara
dan semua orang yang mengaku sahabat, kalaupun berteman hanya se-basa se-basi
kata dalam lumatan kepalsuan. kenapa? karena kita tak lagi menguntungkan buat
mereka.....
dalam TAKBIR semuanya sirna, karena saat
kita mengucapkan ALLAHU AKBAR!! adakah sesuatu selain Allah yang patut kita
besarkan? kita banggakan? kita puja? kita sanjung?....
jika IA, maka semua maknawiyah takbir
menjadi pudar tak bermakna, seharusnya semua manusia duduk dalam majelis yang
satu, yakni majelis kehinaan dihadapan Allah, sehingga tak ada lagi besar
kepala, busung dada, atau tinggi hati, semua habis dimamai oleh ke BESARAN
ALLAH Ta'ala.
mana mobil merek HUMMER, JAGUAR, BMW,
MERCY, LEXUS dsb....ah, itu bahkan lebih tak berarti lagi....
lalu kenapa kita sering merasa kecil
diri dihadapan mereka yang memilikinya jika memang semua itu tak sebanding
dengan gemuruh takbir yang memekik mekik dalam hati dan jiwa kita?????
bahkan saat takbir itu dikumandangkan,
tak satupun lagi mahluk di langit dan bumi boleh ada, karena yang tajjali hanya
kebesaran Allah yang MAHA JALI dari segala sesuatu.....
saatnya bagi kita tak lagi membesarkan
diri, waladzikrullahi Akbar!!
wallahu a'lam.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar