Selasa, 16 Desember 2014

OBRAL HIDAYAH MNC Muslim

Tazkiyah An-Nafs : Obral Hidayah MNC Muslim

MENYAPA SEPI

Di sini, di ujung jembayan hati....

kutuliskan segala rasa yang mengkarsai jiwa, ketika cinta berbalut duka, saat penetrasi emosi itu meredup rendah, bak burung-burung yang kembali ke sangkarnya.

Dalam diam kutabur pesona keheningan, meski ramai keadaan namun sepi dalam penghambaan. tak mampu mengukur-ngukur kehendak,asa dan cita. 

seribu janji berjuta sumpah, berpendar di seantero mayapada, mengulitngulit dinding keyakinan, akankan semua mimpi menjadi nyata??

kegelisahan merupakan honor dan reward dari ketakpercayaan kita kepada kehendak tunggal si pemilik kehidupan. 

berlari menyatakan kekerdilan jiwa yang pengecut, bahkan itu adalah aklamasi dari kegagalan. 
padahal, kenyataan masalalu-masasekarang taklah sama, namun tetap saja bayangan itu selalu menyertai langkah!!

oh malam, lilitlah aku dengan cekaman gelapmu, hingga ujung hidungku tak terlihat lagi di klub-klub malam.

oh siang, bakarlah aku dengan panas cahayamu, biarkan aku meleleh bak lilin-lilin yang raib bersama waktu.

oh, oh, oh..........libaslah aku dalam topan dan badaimu, biarkan aku hanyut dan tenggelam bersama batu-batu bisu yang tak berkomentar ini dan itu....

di pojok jiwa....
terukir sebuah asa..
aku hanya tau..
bahwa asa itu adalah rasa..
dan rasa itu adalah hampa...
maka hampa itulah titik kehilangan diri..
bahkan tak memiliki walau hanya sebiji sawi...
karena semua telah di beli..
oleh sang pemilik hati..
dialah Allah robbul izzati...
dalam sunyi semua bertajali...
hingga lintahpun terlihat sapi..
sementara gajah bak rangkaian duri..
yang semuanya itu hanya majazi..
tak ada yang abadi..
kalau engkau tak percaya..
tanyalah pada batu yang bersemedi...
niscaya engkau temukan jawabanmu sendiri..
karena jawabannyapun tetap saja sunyi...
dan jiwamu yang selama ini hirukpikuk mendadak sepi...
bak kuburan dengan damar tanpa api..
mari menyapa sepi...
di sanalah muara hati itu akan lerlihat indah berseri..
dan engkau akan temukan kalimat sang bijak bestari..
katanya " engkau dan aku sama saja"
sama-sama dari mani yang tak berarti...
untuk itulah copot dan lepaskan seragan kepalsuan selama ini...
dan sadarilah bahwa semua ini bukan punya kita lagi....

karena dalam sunyi, kita tak punya apa-apa lagi.....

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

JALAN KEDAMAIAN. (sebuah catatan dalam OASE CINTA YANG TAK PERNAH SEPI)

Dalam kedamaian tak ada lagi lalulalang ketakutan, bukan berarti hantu telah mati, namun karena keseimbang jiwa yang tak terperciki dendam bahkan kepada syetan yang berjanji ingin menghancurkan.

realisasi kehidupan dipenuhi dengan kebencian yang sangat, ketidakadilan pemerintah melahirkan cacimaki yang tak kunjung padam, sikap borjuis orang kaya memiris-miris hati jelata hingga memunculkan sumpah serapah, keputusan orang pintar hanya menyenangkan penyokongnya dan menyakiti kaum bodoh.

Neraca kejujuran tak lagi digunakan, yang ada kolusi dalam keserakahan bersama, bahkan tak peduli apalagi peka terhadap perasaan orang di sekelilingnya. yang ia tau, ia senang, bergembira, meski ia juga manusia yang di saat berbeda merenda airmata karena duka yang datang menyapa.

dimana jalan kedamaian itu?

kaum spiritualis, mereka menjadi sosok yang dibutuhkan saat kepedihan menyapa, dukalara melanda, bahkan do'a-do'a mereka menjadi tumpuan asa. Namun tak sedikit yang terjebak kepada kehampaan hati, bukan karena tak diberi dzikir dan mantera, melainkan tak adanya kesungguhan untuk merendahdirikan di hadapan Allah sang pemilik semesta.

manusia ingin mulia, seperti kisah Fir'aun yang selalu ingin tampil berkuasa. ternyata mentalitas itu terus meresap bahkan dianulir menjadi nadi darah kehidupan, tengoklah! banyak manusia yang sulit menghargai sesama, bukan karena mereka orang terhormat, karena ia menganggap orang lain itu akan merusak kehormatannya. Majikan tak menghargai pembantu, karena ia menganggap pembantunya adalah 'budak' dan 'sampah' yang jika disandingkan dengannya maka turunlah kehormatan yang dirasanya.

kenapa presiden dan pejabat, jika berkunjung kesuatu daerah menggunakan helikopter? karena mereka tak mau bersentuhan dengan 'malu' yang mereka tebarkan. mereka menyembunyikan cacat kepemimpinan dengan tak mau melihat lubang-lubang jalan, lumpur-lumpur becek. Naifnya lagi, sebagian kita menyokong kesewangwenangan itu dengan memanipulaso tampilan jorok menjadi indah.

selagi kita tak mampu menemukan kerendahan diri, tak bisa membaca cermin kejujuran, dan membutakan hati dari nyanyian jiwa, maka kepungan harta, derai pujian, bahkan tampuk kekuasaan tak akan mendamaikan kehidupan. kedamaian itu hadir dari hati yang menyamaratakan kehidupan, dalam cinta semua menjadi sama. karena keselarasan cinta itu tak memandang kasta. ia adalah naluri yang tuhan hadiahkan, bahkan harimaupun memandikan anaknya dengan menjilatinya, tak surut cinta oleh keadaan, bahkan ia tetap murni meski di bakar oleh api kepedihan. 


cintailah cinta, karena itu sajalah satu-satunya JALAN KEDAMAIAN.

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

JAGAD KESADARAN

Semesta berputar tanpa henti, seperti itu juga partikel-partikel terkecil yang bernama atom.  Perputaran itulah kehidupan, seperti matahari di jatah siangnya dan rembulan di waktu malamnya. 

kehidupan manusia dipenuh dengan beragam kisah, tak hanya putih bahkan hitampun mengambil peran. hanya saja, objektifitas penilaian sering ditimpas oleh pandangan parsial dalam sebuah jastifikasi. padahal kita semua sadar 'petunjuk' itu bukan bagian kita.

Manusia menempati posisinya masing-masing, si penjahat dengan seluruh kejahatannya, dan si baik dengan seluruh kebaikannya, inilah dunia. tak ada kyai, ustadz atau ulama, jika semua orang setara dengan mereka dalam hal pemahaman, kebaikan dan pengamalan. sebutan itu lahir karena tuhan menjadikan sisi gelap untuk diterangi mereka. maka seharusnya mereka ikut bersyukur pada kegelapan, seperti matahari yang selalu dinanti ketika malam sudah sedemikian pekat. sebaliknya keberkahan 'cahaya' yang dititipkan tuhan kepada mereka kebaikan dalam dunia kelam. keduanya menjadi saling berucap terima kasih.

adalah kita kawan....
terkadang tertawan oleh sekelumit kenangan tentang dosa-dosa yang boleh jadi sampai sekarangpun belum kita bisa lepaskan. namun di ruang hati, selalu ada sudut untuk menyesali. dan itulah mercusuar jiwa yang akan menuntun kita untuk berbenah diri.


adalah kita kawan...
yang sering membanggakan kebaikan meski baru sedikit yang bisa kita lakukan. namun tepukan dada sering membahana seolah kita seorang sajalah yang akan menemui surga. padahal di ruang hati, selalu ada sudut kebanggan, riya, ujub, sum'ah dan takabur, dan itulah api yang membakar sekam amal tanpa kita sadari.

adalah kita kawan....
yang menopang kehidupan dengan se'abrek' kepalsuan, mengatasnamakan agama bahkan tuhan sekedar untuk memperoleh harta dan keterpujian. meski kadang kita membrutal tanpa pertimbangan 'SK' tuhan untuk merusak semesta, semua demi perut kita, padahal di ruang hati, selalu ada sudut penyesalan, dimana semua yang kita cari ternyata tak memberi arti pada sebuah kebahagian yang sejati.

adalah kita kawan....
yang memalsukan cinta dan keadilan, lantang teriang bak lari melintas lintang pukang, namun dikenyataan hari, kitalah yang memperkosa dan meniduri cinta dan keadilan. bahkan atas nama cinta, berapa gadis yang terenggut kehormatannya, berapa wanita yang terpaksa melacurkan kehidupan. padalah di ruang hati, selalu ada sudut, dimana keinginan untuk dicintai, disayangi, dihormati setulus hati itu selalu hadir menyapa rasa.

adalah kita kawan....
atas nama hukum dan kepentingan,  melongokkan wajah untuk tampil dimuka, meski cacat itu tak bisa dielakkan, walau bedak dan gincu dipertebaltuankan. demi sebuah harga diri, atau harga rumah kita tak pernah bisa membaca, karena nita masing-masing tersimpan rapi di dalam dada. di ruang hati, selalu ada sudut kehampaan, disitu terletak perasaan benci terhadap diri sendiri, karena tak mampu berbuat lebih untuk orang-orang terkasih, karena kita tak bisa berbagi dengan sesama, meski kadang kita menafikan genta suaranya yang begitu nyaring menendangnendang telinga jiwa.

adalah kita kawan....
yang merindui kehidupan abadi dalam kesenangan, hingga tak peduli lagi dengan cara apa kita untuk mempertahankannya, walau harus membunuh, memfitnah, mengadudomba, mempolitisir berita, atau nyemplung kekubangan nista, padahal di ruang hati, selalu ada sudut kesadaran bahwa kehidupan ini tidak kekal, tak ada yang abadi, tak ada yang pasti, dan kesadaran akan kuasa ilahi itu kita bunuh dengan kepurapuran bego kita atau memang bego yang sesungguhnya, hingga kita tetap mempertahankan syahwat keinginan yang meledak-ledak itu.

adalah kita kawan.....
yang akan menempuh dua jalan, kanan atau kiri, keduanya mengandung konsekuensi logis. dan tak ada paksaan tuhan untuk engkau lalui jalan yang mana, karena ia telah membuat rambu-rambu sebagai tanda, dan Dia beri kita mata hati untuk membacanya, agar kita tak menyesal di ujung jalan yang kita pilih.......


silakan......demikian tuhan memulainya.....

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

Damar Hati di Kegelapan Ruhani...

Terjal dan berliku, itulah kenyataan. Meski tak boleh kita menafikan lurus sekalisekali, karena itu adanya.  Kita tak boleh menutup mata, karena memang harus terus terbuka, jangankan dua mata, satu saja yang tertutup resikonya kita dibilang genit, kalau dua? Buta.....

Mata adalah jendela hati, dengannya kita bisa melongok jendela dunia. Di sanalah keanekaragaman itu terjadi, tak hanya putih atau hitam, sesekali hijau, biru, merah,kuning atau abu-abu.  Tapi jangan coba-coba engkau kenakan warna itu pada lensa matamu,  jika engkau lakukan, engkau telah memperkosa keindahan, memaksakan bajumu pada tubuh orang lain , fatal akibatnya....

Tuhan saja tidak memaksa, memberikan alternatif kita untuk menentukan kebaikan dan keburukan  “ qod tabayyanu rusyd minal ghoy”  . silakan download softwarenya masing-masing, karena hardwarenya sudah disiapkan oleh Allah SWT, “fa alhamaha fujurohah wataqwahah” . saat kita install dapat dipastikan langsung running. Dan tak perlu kita mengkambing hitamkan kambing yang memang sudah hitam, semua punya konsekuensinya.

Kebeningan, kejernihan, kepolosan, sikap itulah yang mampu mempertahankan substansial keindahan tetap menjadi keindahan, tanpa rekayasa, manipulasi atau kalkulatif semu yang dipaksakan.  Kalau boleh diibaratkan produk, manusia ini produk terbaik Gusti Allah,Ahsani Taqwiim” . ia (manusia) hanya bisa berjalan baik, memproduksi kebaikan, jika panduan kita gunakan dengan baik, jangan bilang tak mengerti cara menggunakannya, karena tuhan tak sekedar mengeluarkan buku panduan itu, Ia juga menghadirkan teknisi kehidupan yang telah teruji kredibiltasnya.

Lihatlah, saat kita memaksakan diri menggunakan panduan selain yang disiapkan tuhan, mulai dari sosialis, demokrasi, komunis, kapitalis  de el el. Tak satupun mampu merendahriuhkan kebisingan yang diakibatkan oleh ketidakkompatibelannya, kalaupun jalan, jalannya tersendat-sendat, eror atau ngeblank, masih untung nggak m’leduk.

Dampak itu tak hanya personal tetapi global. Piranti-piranti lainnya semacam api, air, tanah dan udara tentu juga akan gerah, karena mereka terkena limbah ketidakcocokan itu, manusia tak mematuhi S.O.P yang telah ditandatangani bersama. Wajarlah kalau mereka demo, bukan ingin menguasai, sekedar mengingatkan manusia, akan janji selagi kampanye dulu “ Qolu Balaa Syahidnaa”


Tapi jangan khawatir!! Meski teknisi aslinya sudah meninggalkan kita berabad lamanya, ia mewariskan pengganti yang cukup akurat untuk mendandani problem yang terjadi, mereka dinamai “ al-‘ulama warotsatul anbiya”  tapi kita juga harus jeli, karena banyak teknisi abal-abal, yang menjual produk bajakan, tiruan bahkan karya mereka yang tidak original, alih-alih semakin baik, bisa-bisa jadi beneran dah M’LEDUKnya....oleh karena itu kita diwajibkan ‘TELITI SEBELUM MEMBELI!!’

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan

CINTA BERSABARLAH......

Atas dasar apa kita berbuat? Iman, islam, ihsan, ilmu atau ketakmengertian?  Atau egosentri sebagai khalifah yang menyelamatkan bumi? Seperti tantangan Nabiallah Sulaiman yang ingin memberi makan rakyatnya? Atau seperti Nuh yang mengharapkan keselamatan anaknya? Atau seperti saudara Nabiallah Yusuf yang menggulingkannya di sumur tua?? Entah.....

Engkau dan aku bukan siapa-siapa dalam pandangan hakikat, jika engkau gunakan pedang syari’at, sudah seberapa banyak rukuk sujud yang kita lakukan?? Lalu apa yang menjadi pembanding amaliah zahir dan bathin kita? Merasa suci? Merasa benar? Merasa telah beramal?  Mempertontonkan amaliah yang secuil itu kepada semesta yang mengasihi? Tidakkah kita bercermin siapa kita? Beranikah kita menjamin kesucian diri kita dihadapan Tuhan yang Maha QUDUS? Atau kita teken kontrak mati dalam keadaan khusnul khotimah dengan malaikat Izroil? Lalu kita rekomendasikan surat tagihan amal keburukan itu kepada orang lain??

Kalau aku menyebut diriku pendakwah! Sudah mampukah mewarisi welas asih Kanjeng Nabi saat di lempar di thoif, atau memberikan makan pengemis Yahudi yang mencacinya setiap hari?  Atau melepas suroqah yang mengalungkan pedang di lehernya?? Atau larangannya saat fatimah marah ketika kotoran onta itu diletakan pada pundaknya sewaktu ia sujud??? Jika Musa diperintah Allah untuk menyeru Fir’aun dengan Qoulan Layyinah (kelemah lembutan), sudahkah kita mendatanginya dengan kesantunan??

Kearifan lokal sejalan dengan kebodohan personal, tanpa orang-orang yang bersalah dimana barameter kebenaran? Jika kebencian itu membludak dapatkah itu dibilang jiwa yang mengasihi?? Kapan kita membagi rahmat? Kapan kita membagi cinta? Untuk menyayangi diri kita agar tak dimakan ulat-ulat pemborok hati saja kita begitu tak kuasa, tanpa hidayah Allah kita ini bukan siapa-siapa??

Bukankah eksistensi kehambaan sejati adalah ke’tiada’an?? Lalu mengapa kita menjadi dewa? Membuat keputusan dan hukuman? Siapa kita sesungguhnya kita...
Jawabnya....


CINTA BERSABARLAH.....

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan