Sabtu, 17 Januari 2015

Merubah Kehidupan Dengan HATI

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Manusia adalah mahluk sempurna, lahir dan bathinnya ( ahsani Taqwiim). Karena itu Allah SWT ketika menciptakan Nabiallah Adam as, malaikat diperitahkan untuk bersujud ( memberikan rasa hormat) kepada manusia. Salah satu keistimewahan manusia adalah diletakkannya satu benda di dalam tubuhnya yang bernama HATI ( Qolb ).

Di dalam al-Qur’an Allah SWT menegaskan, manusia yang tidak menggunakan hatinya untuk berfikir maka ia seperti binatang ternak,muncul pertanyaan yang berfikir itu akal atau hati sih?

Mari kita simak beberapa ayat Allah berikut ini :

Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” {QS. Al-A’raaf: 179}

Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, pengelihatan dan hati; tetapi pendengaran, pengelihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah…” {QS. Al-Ahqaaf: 26}

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati (qolbu) yang di dalam dada…” {QS. Al-Hajj: 46}

Jelas bagi kita dalam melihat bahwa sesungguhnya yang pertama kali berfikir adalah HATI .  itu mengapa peran hati dalam hadits diatas menjadi sangat penting dalam mengubah kehidupan manusia, jika hati ( ruhani ) nya baik maka baiklah semua jasadnya ( kehidupannya ), demikian pula sebaliknya.

Hati sebagai pembentuk karakter kehidupan manusia, dari hati yang baik, akan muncul segala fikiran yang baik, dari fikiran yang baik akan muncul ucapan yang baik, tindakan yang baik dan semua kebaikan yang dilakukan oleh jasad, kebaikan yang terus dilakukan akan menjadi satu karakter diri yang yang kuat dan dari karakter yang baik itu pula lah akan lahir begitu banyak keberkahan hidup, baik berupa rezeki, relasi, persahabatan dan kesempatan untuk melakukan perubahan ‘nasib’ yang jauh lebih baik.  Hal ini menjadi tafsiran ayat yang berkaitan dengan nasib manusia ;

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga merekamengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra'd:11)

Keadaan ( nasib ) berawal dari ahwal ( kondisi) ruhani yang baik, dan ruhani yang baik lahir dari kebersihan hati ( qolbun salim ) “(yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih “ ( QS. As Syu’araa : 88 – 89 )

, dan untuk dapat terus menjaga kondisi hati yang dipenuhi kebaikan kita harus melakukan upaya maksimal di dalam membersihkan kotoran kotoran hati,  (tazkiah an-nafs) dan praktek pembersihan hati dilakukan dengan dzikrullah, karena dalam hadits Rosulullah SAW telah menjelaskan ;

“Sesungguhnya segala sesuatu itu ada pembersihnya, ada pengkilatnya, ada sikatnya. Pembersih hati yang kotor, sikat hati yang ternoda, pengkilat hati yang berdosa, adalah dzikrullah

dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Allah telah berfirman, “Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Hakim)

dari Abdullah ibn Bisr bahwa seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at islam itu terlalu banyak bagiku. Maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang aku dapat berpegang teguh dengannya.” Beliau menjawab, “Selama lisanmu masih basah menyebut Allah.” (HR. Tirmidzi)

Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

Dapat kita fahami bahwa usaha yang dapat mengubah nasib kita menjadi lebih baik adalah “ ketaqwaan” kepada Allah SWT, bukan sekedar usaha dunia. Bermujahadalah dengan sungguh sungguh dan istiqomah, insya Allah akan dihadirkan Allah kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)

Dari Abu Musa r.a berkata, Rasulullah saw bersabda , “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (Hr.Bukhari, Muslim, dan Baihaqi)


Masih mau yang lain????

Kamis, 15 Januari 2015

Wanita Yang Memasuki Surga setelah istri para Nabi

Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin  setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab

Apabila seorang istri mencuci pakaian suaminya maka Allah catat untuknya 2000 (dua ribu) macam kebaikan, Allah ampuni 2000 (dua ribu) macam kekhilafan dan semua makhluk yang tersentuh sinar Matahari akan selalu setia memohonkan ampunan untuk istri tersebut. (Riwayat Ibnu Mas’ud) Pustaka :Uqudul-Lizein, Syekh Nawawi

Sabtu, 10 Januari 2015

Hakikat Kebaikan

“Berbuat baiklah tanpa harus ada alasan apa yang akan  engkau dapatkan setelahnya, tetapi engkau melakukannya karena memang engkau orang baik yang selalu  ingin berbuat baik”

@ust. Raden

Setiap kita selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, berbagai upaya dan usaha kita lakukan untuk menunjukkan kalau kita adalah orang baik dan mecintai kebaikan. Namun seringkali pula apa yang kita sangka-kan kebaikan itu tidak mendapat respon dari orang disekitar kita, bahkan tidak sedikit yang mencela dan menghinakannya. 

Apa yang salah??

Kebaikan adalah mutiara, ia adalah berlian dan emas murni, yang takkan berubah nilainya, substansinya dan seluruh keadaannya, walau ia diletakkan dalam tanah berlumpur sekalipun, karena kebaikan adalah kebenaran yang absolut, ada atau tidak ada campur tangan manusia di dalam melakukannya.

Yang menjadi titik tolak adalah kita manusia sering mengharapkan “pantulan” dari kebaikan yang kita lakukan, sehingga ketika kita melihat wajah kita dicermin kehidupan, lalu kita terkagetkan, kenapa wajah kita tak seperti yang kita harapkan, kenapa wajah kita menakutkan, lalu kita mulai gelisah.

Ada istilah  “ wajah rusak cermin dibelah”, sesungguhnya apa yang rusak bukanlah sesuatu yang ada diluar sana, tetapi niat kitalah yang rusak. Ketika kita melakukan kebaikan, kita mengharapkan begitu banyak pujian dari mahluk, sadar atau tidak kita menunggu hal tersebut, sehingga ketika hal itu kita tidak dapatkan kita akan mengatakan “ air susu dibalas air tuba”.

Sikap dan sifat yang sedemikian itu tidak akan berlaku bagi orang yang memahami hakikat kebaikan, karena menjadi pribadi yang baik bukanlah karena penilaian manusia, tetapi oleh sang pemberi kesempatan kita dalam berbuat baik itu sendiri, Allah SWT.

Jika nilai kebaikan diukur dari pendapat manusia, maka si perampok yang membagi hasil kejahatannya secara adil kepada anak buahnya, pastilah tergolong orang yang berbuat baik. Dan akan banyak opini opini kebaikan yang bisa di creat oleh manusia untuk mendapatkan stempel kebaikan.

Itu kenapa ketika Rosulullah SAW ditanya tentang hakikat Kebaikan “ Ihsan”  Rosulullah SAW menjawab “ Engkau beribadah seolah melihat Allah atau engkau merasa diawasi oleh-Nya”

Jelas bahwa kebaikan adalah satu sikap dan nilai kehidupan yang bermuara dari “ma’rifat akan Allah SWT, bukan dari penilaian manusia, karena boleh jadi apa yang kita lakukan  berupa amal yang salih atau tindakan kebajikan, akan dilihat oleh orang lain sebagai sebuah hal yang merugikan kehidupan mereka.

Kebaikan adalah satu sikap dimana kita lakukan karena Allah, bersama Allah dan untuk Allah. Tak bangga akan pujian dan tak lekang karena hinaan, karena kebaikan adalah kebaikan, dan takkan berubah karena subjektifitas pandangan manusia, hanya untuk Allah.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ  وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(Q.S. Ali Imron : 134)

Rabu, 07 Januari 2015

Distorsi Cinta

Manusia merupakan mahluk yang lahir dari cinta, maka ketika seorang bayi terlahir dari rahim – itu juga mengapa media terlahirnya manusia disebut dengan rahiim ( kasing sayang), kita menyebutnya buah cinta, sebuah artikulasi alami dan bentuk kejujuran manusia.

Mengapa seorang  ibu rela mengorbankan nyawanya saat melahirkan anaknya? Ini juga bentuk nyata dari sebuah cinta, bahkan tak habis sampai disitu, pengorbanan berlanjut dengan hilangnya jam istirahat , membuang kantuk, menyingkirkan segala lelah, karena ia haru menjaga “buah cinta’ yang saat ini mewujud menjadi seorang anak. Walau mungkin sebagian orang tidak melihat peran ayah, namun sesungguhnya iapun sama besarnya dalam berkorban, bayi mungil itu menjadi stimulasi dan motivator yang menggerakkan adrenalinnya untuk mencari rezeki, agar semua kebutuhan anaknya tak kurang bahkan ia berusaha untuk mencari lebih, alasannya?? Karena ia ingin anaknya tumbuh dan berkembang dalam kecukupan.

Seiring waktu, buah cinta ini menjadi manusia yang sempurna dan mandiri. Ia tak lagi harus dimandikan, disuapi, dituntun berjalan, atau mendapatkan bantuan dari ibu dan ayahnya. ia bisa berlari bahkan pergi dengan kemauannya sendiri. Lalu berhentikah cinta sampai disini?

Energi cinta itu terus mengalir, usapan, belaian, kerinduan bahkan keinginan dari cinta ayah dan bunda terejawantahkan dalam do’a dan harapan, ia ingin melihat anak anaknya bahagia, gembira dan sukses, bahkan tidak sedikit mereka rela menjadi miskin, berhutang dan mengadu nyawa agar anaknya bisa sekolah ditempat yang terbaik, mendapatkan pekerjaan yang terbaik dan memiliki kehidupan yang terbaik. Orangtua menyingkirkan mimpi mimpi mereka, dan mengalirkan semua cita cita mereka hanya untuk KEBAHAGIAN SANG ANAK.

Seluruh waktu dan cintanya telah dihabiskan untuk “ buah cinta” yang kini telah menjadi ‘orang’, pejabat, pengusaha, atau apapun. Buah hati itu kini telah memiliki istri, suami dan keluarga sendiri. Namun ternyata, cinta mereka tak juga berhenti, ditengah rentahnya usia, rapuhnya tulang, lelahnya tenaga, mereka menyediakan diri untuk mengasuh cucu cucu yang mereka sayangi melebih sayangnya mereka terhadap diri mereka sendiri. Tak pelak, walau terlihat seperti seorang pembantu, penjaga bayi atau sebutan lainnya, mereka menapik semua label itu, karena bagi mereka inilah CINTA yang harus direfleksikan dalam kenyataan sejati.

Namun sayangnya..........

Buah cinta tak memahami esensi cinta dari mereka para pelaku cinta, sehingga mengabaikan nilai nilai ‘pembalasan’ – walau mereka takkan pernah berfikiri untuk mencari balasan atas cinta yang telah mereka berikan -, namun sebagian anak anak tak pernah mengerti cara terbaik dalam membahagian mereka. Bahkan terlihat dalam kenyataan, sebagian anak laki laki menyepelakan cinta abadi itu atas cinta cinta yang baru bergabung di hatinya, ia lebih rela untuk melukai hati ibunya daripada terlihat tegas terhadap istrinya, walau tidak semuanya.

Distorsi cinta, itulah yang terjadi, kita tak pernah hadir untuk mereka, tak pernah ada saat mereka lelah, tak mampu membersihkan keringat yang menetes diwajahnya, bahkan sekedar bersama mereka meminum teh atau kopi untuk membuat mereka menjadi bahagia dan merasakan bahwa kitapun ada seperti mereka dulu ada untuk kita.

Mungkin, mereka tak pernah terfikir untuk sakit hati, atau merasa luka atas sikap kita, mereka mendamaikan hati mereka dengan mengatakan, “anakku memang hebat,  sukses dan memiliki kegiatan yang banyak, dan merekapun tak menuntut sesuatu yang seharusnya mereka dapatkan dari kita. Tapi ketahuilah, ada yang marah atas semua sikap ‘acuh’ kita, sikap tak peduli kita, sikap tak mau taunya kita, 

Dialah Allah yang Maha Cinta. Kenapa Allah menjadi murka? Karena kita telah melukai cinta yang ia turunkan melalui tangan kedua orangtua kita, hakikatnya selama ini orang tua kita hanya representatif dari cintanya Allah SWT, dan kita sangat tidak pandai berterima kasih atas cinta Allah. Itu kenapa Rosulullah SAW menyebutkan “ lam yasykur linnas lam yaskur lillah” siapa yang tak bersyukur kepada manusia, sesungguhnya ia sedang tidak bersyukur kepada Allah SWT.

Rasa syukur kita menjadi satu keniscayaan untuk menggapai suksesi kehidupan, karena pribadi yang bersyukur sama dengan pribadi yang sangat mengerti hakikat cinta ILAHI. Maka cara yang palin efektif untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat cinta-Nya, adalah membahagian manusia yang telah menjadi alat TUHAN dalam mewujudkan cinta-Nya kepada kita.

Wallahu a’lam  

Raden Ahmad Affandi Azmatkhan